Minggu, 20 November 2011

ALIRAN TRANSFORMATIONAL GENERATIVE GRAMMAR



ALIRAN TRANSFORMATIONAL GENERATIVE GRAMMAR

DOWNLOAD VERSI MS WORD DI SINI


1.      Asal Mula Munculnya Aliran TGG
Selama puluhan tahun, linguistik struktural digandrungi para linguis modern sebagai satu-satunya aliran yang pantas diikuti dalam menganalisis bahasa. Kemudian pada tahun 1957, Aliran Transformational Generative Grammar atau dalam bahasa Indonesia lazim disebut tata bahasa transformatif, tata bahasa generatif atau tata bahasa transformasi klasik, lahir dengan terbitnya buku Noam Chomsky yang berjudul Syntactic Structure pada tahun 1957. Teori ini dikembangkan pada bukunya yang ke dua berjudul Aspect of The Theory of Syntax pada tahun 1965. Dalam buku ini, Chomsky telah menyempurnakan teorinya mengenai sintaksis dengan mengadakan beberapa perubahan prinsipil yang dikenal dengan istilah "Standard Theory". Kemudian dikembangkan lagi pada tahun 1972 dan diberi nama "Extended Standard Theory". Pada tahun 1975 direvisi kembali dan diberi nama "Revised Extended Standard Theory".[1]  
2.      Pandangan-pandangan Aliran TGG


Pandangannya tentang bahasa cenderung bersifat rasional-mentalistis yang berbeda dengan pandangan linguis pada saat itu di Amerika Serikat yang sangat empiris.[2]
            Dalam bukunya yang pertama, Chomsky menyatakan bahwa semua bahasa manusia itu sama prinsipnya. Sejak lahir manusia sudah memiliki pengetahuan dan gagasan di dalam akalnya. Oleh karena itu, Chomsky tidak mendukung pendapat Behavioris yang menyatakan bahwa bahasa diperoleh dengan proses rangsang-tanggap. Bantahan Chomsky terhadap faham behaviorisme ini terkenal pada tahun 1959 dalam artikelnya sebagai kritikan atas tulisan B.F Skinner tahun 1957 tentang  verbal behavior. Chomsky menyatakan bahwa behavioris tidak akan mampu mencapai hakikat bahasa manusia bahkan unsur luarnya pun tidak dapat dicapainya.[3]
            Menurut Chomsky, salah satu tujuan penelitian bahasa adalah menyusun tata bahasa dari bahasa tertentu. Bahasa merupakan kumpulan kalimat yang terdiri atas deretan bunyi yang mempunyai makna. Oleh karena itu, tata bahasa harus menggambarkan hubungan bunyi dan arti dalam bentuk kaidah-kaidah yang tepat dan jelas. Tata bahasa itu harus memenuhi dua syarat:
1.      Kalimat yang dihasilkan oleh tata bahasa harus dapat diterima oleh pemakai bahasa sebagai kalimat yang wajar dan tidak dibuat-buat.
2.      Tata bahasa harus berbentuk sedemikian rupa sehingga istilah yang digunakan tidak berdasarkan pada gejala bahasa tertentu saja.
            Sejalan dengan konsep langue dan parole dari de Saussure, Chomsky membedakan antara competence (kemampuan) dan performance (penggunaan bahasa). Competence merupakan pengetahuan seseorang tentang bahasa dan kaidah-kaidahnya, sedangkan performance merupakan keterampilan seseorang menggunakan bahasa. Objek pembahasan Chomsky dalam aliran TGG ini adalah competence yang  mengandung sistem kaidah yang dipakai si pembicara untuk membuat kalimat yang diucapkannya. Jadi, tata bahasa harus mampu menggambarkan kemampuan si pemakai bahasa agar mengerti kalimat yang tidak terbatas jumlahnya, bahkan sebgian besarnya belum pernah didengarnya. Setiap orang memiliki aspek kreatif bahasa karena pada saat mengucapkan suatu kalimat, kalimat baru telah dibuat dan berbeda dari sekian banyak kalimat yang pernah diucapkan. Dengan kata lain, sebuah tata bahasa harus terdiri atas sekelompok kaidah yang tertentu jumlahnya, tetapi dapat menghasilkan kalimat yang tidak terbatas jumlahnya.
            Ia memperkenalkan tata bahasa transformasi (generatif) yang dapat menjelaskan struktur bahasa secara eksplisit dan telliti melalui kaidah "tulis kembali" (rewrite). Sebuah kalimat ia rumuskan menjadi sentence (S), noun Pharase (NP), dan verb phrase (VP) sebagai kalimat inti (kernel sentence) yang dapat diperluas melalui transformasi.[4]
            Tata bahasa semua bahasa terdiri dari tiga komponen, yaitu:
1.      Komponen Sintaksis
2.      Komponen Semantik
3.      Komponen Fonologis
            Komponen sintaksis merupakan pusat tata bahasa karena di dalamnya terdapat komponen dasar dan transformasional. Komponen dasar terdiri dari subkomponen kategorial dan leksikon tertentu. kaidah subkategorisasi yang menggambarkan aspek kreativitas bahasa, menghasilkan pola-pola kalimat dasar dan deskripsi struktur untuk setiap kalimat yang disebut penanda frase dasar. Semuanya ini merupakan unsur-unsur struktur batin (deep structure). Leksikon merupakan daftar morfem beserta keterangan yang diperlukan untuk interpretasi semantik, sintaksis, dan fonologi.[5]
            Di dalam bukunya, Aspectc of the Theory of Syntax, ia memperkenalkan konsep struktur lahir (surface structure) dan struktur batin (deep structure). Strukur lahir sebuah kalimat merupakan hasil transformasi dari strukur batinnya. Struktur lahir yang sama belum tentu mengandung struktur batin yang sama pula. Struktur lahir kalimat John is eager please dan kalimat John is easy to please adalah sama, tetapi struktur batinnya berbeda. John dalam kalimat pertama adalah subjek, sedangkan di dalam kalimat ke dua, John adalah objek. Sebaliknya, dalam kalimat struktur lahir yang berbeda dapat saja terkandung struktur batin yang sama. Struktur lahir kalimat John hit Jack berbeda dengan struktur lahir kalimat Jack was hit by John. Tetapi, kedua kalimat tersebut mempunyai struktur batin yang sama karena John  adalah pelaku dan Jack adalah objek.
            Tata bahasa transformasi berusaha memahami akal manusia melalui I-language (Internal, individual language) yang terpisah dari E-Lamguage (external, extensional language) yang ada di dalamotak seorang penutur asli. Bagian dari pengetahuan ini, yang berupa seperangkat prinsip bahasa yang dikenal sebagai Tata Bahasa Semesta (Universal Grammar), diyakini sudah ada pada akal manusia sejak lahir.[6]
            Komponen semantik memberikan interpretasi semantik pada deretan unsur yang dihasilkan oleh subkomponen dasar. Arti sebuah morfem dapat digambarkan dengan memberikan unsur makna atau ciri semantik yang membentuk arti morfem tersebut.
            Komponen fonologi memberikan interpretasi fonologi pada deretan unsur yang dihasilkan oleh kaidah transformasi. Dengan memakai kaidah fonologi deretan unsur tadi dapat diucapkan.[7
          
DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta, 2007.

Strazny, Philip, ed. Enclyclopedia of Linguistics. New York: Taylor&Francis Books, Inc., 2005
Kushartani, dkk, Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2009


[1] Abdul Chaer, Linguistik Umum(Jakarta: Rineka Cipta, 2007), h. 364-365
[2] Kushartani, dkk, Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik(Jakarta:Gramedia Pustaka Utama, 2009), h. 216
[3] Philip Strazny, ed., Enclyclopedia of Linguistics( New York: Taylor&Francis Books, Inc. 2005), h. 205
[4] Kushartani, dkk, Pesona Bahasa...h. 216
[5] Abdul Chaer, Linguistik Umum...h. 364-367
[6] Kushartani, dkk, Pesona Bahasa...h. 216-217
[7] Abdul Chaer, Linguistik Umum...h.368



1 komentar: